Keliling Aceh, Salah Satu bucket listku Terwujud

By CERITA WINNIE BLOG - April 29, 2017


Aceh merupakan salah satu provinsi di Indonesia dan letaknya paling ujung utara di Negara Indonesia. Aceh saat-saat ini sedang dilirik oleh para traveller, baik wisatawan lokal atau wisatawan asing. Apalagi sejak kejadian bencana Tsunami thn 2004 silam, wisata di Aceh menjadi sorotan para traveller. Pokoknya sekali seumur hidup harus jelajahi kota yang dijuluki Serambi Mekah ini.
***

Menurut pepatah, rencana yang spontanitas/dadakan itu justru lebih terealisasi dibanding yang direncanain jauh-jauh hari (Saya pernah share juga pengalaman menurut pepatah ini juga). Begitu juga, perjalanan saya menjelajah Aceh yang cuma direncanakan dalam waktu 3 bulan saja dan itu terwujud.

Dan bulan Maret kemarin, saya bersama tiga teman saya dari Jakarta. Edi, Jojo dan Dechan terbang ke Aceh, harga tiket ke Aceh memang sedikit agak mahal termasuk perjalananku kemarin, aku dapat tiket Jakarta - Aceh 1,2jt (transit). Tapi kalau ingin mensiasati agar bisa mendapatkan tiket murah ke Aceh, kita bisa beli tiket ke Medan dulu paling dengan harga 600an setelah itu beli lagi tiket pesawat Medan-Aceh dengan kisaran harga 300an. Tapi kalau saya kemarin, langsung beli tiket Jakarta-Aceh walau transit 50menit di Medan.

Pukul 9.30, saya sudah sampai di Bandara Iskandar Muda, Aceh. Karena memang ini trip dadakan, jadi saya bersama teman-teman memang belum mempersiapkan semuanya, termasuk kendaraan yang kami gunakan selama eksplore Aceh. Tapi beruntungnya, kami bertemu dengan Bapak separuh baya (ya memang Bapak ini adalah salah satu driver car rental) dengan nego harga, kami dapat harga rental mobil Rp.300rb sampai jam 3 sore. Karena jam 4 sore kami sudah musti nyebrang ke Sabang.

Namanya Pak Lukman - driver kami selama keliling Aceh, selain driver dia juga yang akan men-guide kami selama di Aceh.

Masih di pesawat, foto dulu! *cheers

Banda Aceh merupakan provinsi paling ujung di Pulau Sumatera. Masih teringat jelas, peristiwa Tsunami tahun 2004, dimana hampir setiap sudut daerah di Banda Aceh terkena bencana Tsunami dan semuanya rusak infrastruktur kota ini. Tapi saat ini, Banda Aceh sudah berbenah, bahkan tidak terlihat sedikit pun di kota ini pernah dilanda peristiwa Tsunami.

Selama perjalanan, Pak Lukman bercerita kepada kita bagaimana Aceh saat itu dilanda Tsunami dan saat Bapak Lukman juga kala itu sedang apa pada saat peristiwa Tsunami. Dan saya pun bergumam, ternyata Aceh benar-benar sudah kembali normal. Kota Banda Aceh tidak lah jauh beda dengan Medan (menurutku) karena dimana-mana kita bisa jumpai Bentor di kota ini. 


Kami berfoto di depan Aceh Tsunami Museum

Waktu yang terbatas membuat perjalananku bersama tiga temanku harus extra speed. Ditambah lagi, dihari pertama kami sampai di Kota Aceh jatuh di hari Jumat. Dimana kalau di Aceh, setiap hari Jumat semua kegiatan dihentikan selama 2 jam dari jam 11.00 s/d 13.00 atau selama sholat Jumat. Karena memang Aceh sangat memegang hukum syariat Islam. Dan kami pun, sempat beristirahat dengan mencicipi kuliner Aceh saat Pak Lukman sholat Jumat.

Singkat cerita, dimana saat kami menjelajah Aceh Tsunami Museum hanya 30menit saja dikasih waktu untuk berfoto-foto dan melihat isi didalamnya. Takut gak cukup waktunya, hehe.


Dibelakang inilah, nama-nama korban Tsunami

Dimana-mana selalu narsis ✌


Dari Aceh Tsunami Museum, kita lanjut ke Masjid Baiturahman. Masjid Baiturahman ini merupakan masjid terbesar di Aceh dan menjadi tempat wisata religi di Aceh. Ada aturan utuk turis yang diberlakukan oleh masyarakat Aceh saat mengunjungi Masjid ini dimana turis harus mengenakan pakaian yang sopan, jika masih bandel turisnya, maka gak segan-segan masyarakat Aceh akan menegur turis tersebut. 

Saat saya datang kesini, Masjid ini sedang dalam renovasi namun kami boleh masuk ke dalam Masjid ini. Kebetulan temanku-Dechan ingin sholat di dalam. Maka kami pun menemani dia sambil mengademkan tubuh di dalam Masjid (karena saat itu cuaca kota Banda Aceh sedang terik banget). 



Halaman Depan Masjid Raya Baitturahman

Saya kagum dengan arsitektur Masjid ini begitu megah dan elegant. Semua sudut di Masjid ini berwarna putih dan menurutku Masjid ini begitu luas dan terasa adem di dalamnya. Ada banyak anak-anak kecil di dalamnya yang sepertinya sedang belajar mengaji dan beberapa ibu-ibu dan bapak-bapak yang sedang menjalani ibadahnya. 

Masjid ini juga menjadi bagian saksi bisu terjadinya bencana Tsunami. 


Interior didalam Masjid Raya Baitturahman

Lepas dari Masjid Baitturahman, saya pun melanjutkan perjalanan menuju destinasi berikutnya. Memang saat itu, kami benar-benar memanfaatkan waktu semaksimal mungkin. Karena nanti sore kami sudah musti menyebrang ke pulau Sabang.

Beruntungnya wisata di Aceh dari satu ke tempat lainnya jaraknya tidak terlalu jauh. Hanya sekitar 15 menit, kami sudah sampai di tempat lainnya. Dan kali ini, kita akan ke tempat wisata (lagi) yang menjadi saksi bisu terjadinya Tsunami namanya Kapal diAtas Rumah didaerah Lampulo.


Bukti nyata kebesaran Tuhan

Kapal diatas rumah ini berada dekat dengan kampung nelayan. Waktu saya kesini saya sempat berdecak kagum ternyata kuasa Tuhan begitu besar. Terlihat Kapal yang sangat besar ini bisa nyasar diatap rumah warga akibat terbawa gelombang Tsunami yang datangnya dari laut. Sungguh hebat!

Di wisata ini, tidak dipungut biaya hanya saja ada kotak amal yang bisa kalian sumbangin untuk saudara-saudara kita di Aceh, untuk pembenahan wisatanya atau membantu perekonomian masyarakat disini. Terlebih jika kalian membeli beberapa souvenir yang mereka jual itu sangat membantu mereka.



Di depan Kapal Diatas Rumah, Lampulo


Dari wisata Kapal diatas rumah, masih ada tersisa waktu 30menit lagi sebelum jam 4 sore. Dan Pak lukman, driver kami memberikan opsi kepada kami. Apakah masih mau lanjut ke satu destinasi lagi yaitu Kapal PLTD. Namun di tempat wisata ini benar-benar kita cuma punya waktu 5 menit saja buat eksplore tempatnya. Karena takut ketinggalan kapal cepat Sabang.

Dan saya dengan teman-teman sepakat untuk tetap ke tempat itu walau waktu hanya 5 menit. Jarak dari Lampulo ke wisata Kapal PLTD ini hanya 5 menit saja. Dan (lagi) disini kami tidak di pungut biaya hanya uang parkir kendaraan saja. 

Secara garis besar, Kapal PLTD ini hampir mirip kisahnya dan sejarahnya kenapa Kapal diatas rumah ini ada di tengah-tengah kota Banda Aceh yaitu karena gelombang Tsunami yang menjadikan Kapal PLTD nyasar ke sini dan sekarang menjadi destinasi tempat wisata di Aceh. Tapi kapal PLTD ini ukurannya 2x lipat dari Kapal diatas rumah yang tadi kita kunjungi. Bahkan konon, banyak korban-korban Tsunami yang tertanam dibawah kapal ini dan karena  kendala besarnya kapal ini maka korban-korban tersebut masih berada di bawah kapal tersebut.

Saya bersama teman-teman tidak terlalu banyak mengeksplore area wisata ini, kami hanya berfoto di luar dan di jam yang menunjukkan waktu terjadinya Tsunami.

Jam yang menunjukkan wsktu terjadinya Tsunami


Kapal PLTD yang nyasar ditengah kota Banda Aceh

Foto bersama Bapak Lukman
Gak terasa hari sudah semakin sore, dan Pak Lukman mengantar kami menuju Pelabuhan Ulee Lheuee. Waktu yang tepat sekali kami sampai di pembelian tiket karena nyatanya 5 menit lagi loket pembelian tiket akan segera ditutup untuk penyebrangan yang jam 4.

Beruntung banget ya..

Siap ke Sabang!


Teman gue Edi & Jojo sibuk sedang membeli tiket kapal
Keliling kota Aceh memang sangat menyenangkan dan kota Aceh menambah travel bucket listku terwujud lagi. Walau kemarin nggak banyak tempat wisata yang bisa saya kunjungi terlebih pantai di Banda Aceh, katanya cantik-cantik loh. Tapi memang karena waktu, saya tidak banyak belum bisa dijelajahi. Tapi suatu saat saya akan kembali ke kota ini dan mengeksplore pantai-pantai di Banda Aceh.

Dan siapa bilang jalan-jalan di Aceh butuh banyak biaya, coba cek budgetku selama di Aceh aku udah rangkumin neh :

1. Transportasi di Aceh 300rb (sharecost)
2. Wisata Museum Tsunami free
3. Wisata Kapal di Atas Rumah free cuma bayar tiket parkir 5rb
4. Wisata di Masjid Baiturahman free juga
5. Wisata di Kapal PLTD Apung kemarin cuma bayar tiket parkir 5rb.
6. Tiket Kapal penyebrangan Aceh - Sabang 80rb (tidak sharecost)

***

Bagaimana sudah siap jalan-jalan ke Aceh, cus lah tunggu apa lagi .. 😉


Baca juga cerita perjalanan saya selama di Aceh dan Sabang :



3. Tips Berlibur ke Ujung Utara-nya Indonesia - Aceh


Selamat Jalan-Jalan,

Winnie





  • Share:

You Might Also Like

0 Comments